Memanfaatkan Waktu Untuk Anak
Saya sering merasa terlalu banyak pekerjaan yang harusdilakukan dalam waktu yang amat terbatas. Akhirnyadalam segala urusan saya selalu tergesa-gesa.Anak-anak di suruh ngabisin makannya dengan cepat,mandi cepet, tidur cepet(biar saya bias istirahat),dan sebagainya.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindariketegangan dan ketergesaan dalam mengerjakan pekerjaansehari-hari. Hasil yang diharapkan adalah ketenangandan kenikmatan waktu dengan keluarga1. Kurangi kegiatanMemang sangat dianjurkan bagi para orangtua untukmengikutsertakan anak dalam berbagai aktifitas diluarsekolah untuk mengembangkan potensi anak. Namun jikaterlalu banyak hasilnya bukan jadi positif malahsebaliknya. Orangtua dan anak tidak punya “break”.Sibuk dengan berbagai kegiatan yang akhirnya malahmenimbulkan “stress” karena harus selalu “rush” untukmenyiapkan anak-anak atau antar-jemput dan sebagainya.Seorang assistant professor di University of Illinoismengatakan untuk “kesehatan mental” keluarga, satuatau dua aktifitas per anak sudah cukup. Anak-anakmembutuhkan waktu untuk relaks(downtime). Carilahaktifitas bermanfaat yang sesuai dengan usia anak.Misalnya jika anak belum siap untuk ikut kegiatantaekwondo tahun ini tunggulah sampai tahun depan.Mungkin swimming lesson yang lebih sesuai untuknya. 2. Kerjakan sesuatu tanpa harus tergesa-gesaKita tergesa-gesa karena banyaknya pekerjaan yangharus dilakukan. Juga karena kebiasaan. Kita harusbisa memilih-milih atau memprioritaskan pekerjaan.Pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan hari ini bisadiselesaikan pada hari berikutnya. Tidak usah terlalu terpaku pada schedule. Jika kita merasa terlaludikejar waktu, ambil nafas panjang sebentar. Take abreak, lanjutkanlah pekerjaan setelah kita agaktenang.3. Menyambi PekerjaanJika memungkinkan, lakukanlah dua pekerjaan dalamwaktu yang bersamaan. Saya ingat ada sister di IMSISyang sambil menyetrika mengulang hafalan Qur’an dengananaknya, MasyaAllah. Contoh lain misalnya membacabuku atau menghafal surat Al-Qur’an sambil mengawasianak-anak bermain di playground. Multitasking membuatkita lebih produktif. Waktu bisa tergunakan secaraoptimal. Namun, multitasking terkadang bukan solusidari semua masalah. Kita harus memilah-milih untungruginya. Tentunya kalau kita terfokus pada satu hal,hasilnya jadi lebih sempurna. Misalnya memberikansepenuh perhatian saat membantu anak yang sedangmengerjakan homework. 4. Perencanaan Yang BaikUntuk mencegah ketergesaan diperlukan perencanaan yangbaik. Kebiasaan jelek orang Indonesia adalah tidak ontime. Satu anak molornya 15 menit. Makin banyakanaknya makin molor waktu. Kebiasaan ini seharusnyakita tinggalkan. Apalagi Islam mengajarkan kita untukselalu tepat waktu. Salah satu caranya adalahmemberikan waktu 15 menit untuk mempersiapkan satuanak. Berarti jika anaknya tiga, waktu untuk siap-siapkira-kira 45 menit sampai sejam sebelum berangkat.Kalau tidak begini, mungkin kita akan bertindakseperti “drill seargent” yang berteriak-teriak padabawahannya.
4. Sediakan Waktu BermainLupakan pekerjaan dapur sebentar untuk bermain dengananak. Pekerjaan rumah akan tidak pernah habis.Seharian bisa saja kita di dapur. Sediakan waktukhusus untuk bermain dengan anak. Tidak usah terlalulama. Yang penting “quality time”. Pusatkan perhatiankita pada anak. Jika kita punya lebih dari satu anak,sediakan “special time” untuk masing-masing anak, agarsetiap anak merasa “special”.5. FokusJika anak mengajak kita bicara, pusatkan perhatianpada mereka. Jangan sampai saat anak mengajak kitabicara, kita tidak memberikan eye contact. Mereka akanmerasa dicuekin. Bahkan makin “mengganggu” kita.Tinggalkan pekerjaan sebentar, dengarkan keluh-kesahatau pertanyaan mereka. Apabila mereka puas, merekaakan meninggalkan kita. Hasilnya, kita bisa meneruskanpekerjaan yang ditinggalkan tadi.6. Turunkan StandardIni nasehat yang sering dikemukakan suami saya.“Sudahlah, ngga’ papa rumahnya berantakan sedikit”.Kadang-kadang saya terlalu ngoyo pingin rumah rapiterus. Padahal saya tahu itu sulit. Juga soal makan.Saya biasanya pingin anak-anak habis terus makannya.Padahal kadang-kadang mereka ngga’ selera. Supayangga’ stress, I had to let it go. Ngga’ selalu mestiabis makannya. Ibunya yang mesti ngabisin sisanya:)7. Ciptakan suasana tenangSuara tv, teriakan, tangisan, obrolan , seringkalimembuat kita tidak tenang. Kalau sudah begini, mintawaktu untuk menenangkan diri. Mungkin bisa mintatolong suami untuk menjaga anak sebentar. Waktu inimungkin bisa kita manfaatkan untuk membaca Qur’an,menulis, membaca buku, atau “hugging time “ dengananak. 8. “Sit Down”Doing nothing is OK sometimes. Just sit down with yourfamily and enjoy the evening. Biarkan anak-anakmenceritakan hari-harinya di sekolah, teman-temannya,buku-bukunya, dan lain sebagainya. Waktu berjalansangat singkat. Jangan sampai kita kehilangan waktuindah bersama anak. Suatu hari kita akan berkata,“rasanya dulu kamu baru saja lahir. Sekarang sudah maumenikah”. Mudah-mudahan Allah membantu dan meringankanbeban kita sebagai ibu. Berat memang, tapi kalauikhlas, InsyaAllah, jannah ganjarannya. Amien yarabbal alamin.
Wallahu alam,Vivi
Resource: “Parenting Magazine”, edisi July 2005