Archive for March, 2008

Panggilan

Sunday, March 30th, 2008

Pas jaman kuliah dulu (yg BTW udah lama berlalu), aku sering di protes sama temen-temen yang udah married. "Vi, aku jangan di panggil tante donk, mba’ aja deh…". Pokoknya,  dulu prinsipnya kalo’ udah married, apalagi kalo’ dah punya anak, otomatis panggilannya jadi "Tante/Om". Padahal, beda umurnya ga terlalu jauh. Paling cuma beda 5 tahun….

Atribut atau panggilan orang terhadap kita selalu mengalami perubahan sejalan dengan berjalannya waktu. Waktu gede di Riau, kita biasa memanggil "Kak" ke kakak kelas. Jadi kalo’ aku dipanggil "Kak" sama yang lebih muda, dah biasa deh. Eh, terus pas kuliah,  kan banyak "ponakan-ponakan" kecil tuh, mulailah harus membiasakan diri dengan panggilan "Tante Vivi". Mulanya agak kagok dipanggil "Tante " sama anak-anak, tapi lama-lama jadi biasa.
Sejak nikah, panggilan berubah lagi. Apalagi di Indonesia, baru nikah beberapa hari, harus biasa  dipanggil  "Nyonya Vivi atau Ibu Eko"..Ihhhh, ga biasa banget deh!!!
Pernah waktu lagi makan sama temn-temenku (yang masih single) di hotel, terus kita dipanggil "Ibu". Kenapa engga’ "Mba’" sih?", kataku sewot. Kesannya kalo’ "Ibu" dah tua banget. Terus kata temenku, "Itu panggilan hormat, Vi, kalo’ di Indonesia." Dasar,.. ga biasa tinggal di Indonesia nih…

Adek iparku juga bilang gitu, "Enakkan dipanggil Ibu, kalo dipanggil "Mba’" kaya’ baby sitter atau pembantu". Hi..hi..hi…, bener juga sih. Aku pikir kalo’ dipanggil Ibu itu untuk yang udah berumur…:)

Nah, sekarang nih umur makin nambah suka geli aja. Kadang-kadang suamiku dipanggil "Pak" sama anak-anak muda yang baru dateng dari Indonesia. "Ih.., bapak-bapak", godaku. Eh, ternyata si anak-anak itu manggil "Tante" ke aku. Ampun deh…, kok ga cocok banget yah…yang saru dipanggil Bapak, yang satu dipanggil Tante. Kenapa ga Om sama Tante aja sih…? Tau ah….

Pernah ada temenku dipanggil tante sama anak usia college gitu, terus dia wanti-wanti sama si anak itu, "Don’t call me "aunt". Do I look old to you?? Call me sister". Ternyata bukan aku aja yang sewot kalo’ dipanggil "Tante".

Kalau menurutku, fenomena seperti ini disebabkan oleh tidak sadarnya orang terhadap penambahan umurnya. Kita cenderung berfikir kalo’ kita tuh masih muda. Padahal, ya ampuuun.., umur nambah terus.  Siap-siap aja beberapa tahun kedepan, kita bakal dipanggil "Eyang, atau Nenek" oleh semua orang.  Waktu memang cepat berlalu. Perasaan, aku baru aja lulus SMA, kemudian baru nikah, punya anak…, dan sebagainya. Ngeliat kebelakang lagi, rasanya baru kemaren. Ah…, aku cuma iseng malam ini. Anak-anak dah pada bobok. Jadi gini deh, iseng mengangkat topik ini..he..he..he….

Sabar….sabar…..

Friday, March 28th, 2008

Duh, kaya’nya pingin ngelupain hari ini deh. Ga enak banget perasaanku. Tadi di Macy’s sempet ga’ enakkan sama pegawainya. Pasalnya waktu lagi asyik-asyiknya milih barang, eh…si pegawainya bilang, " I can hold this for you". Whatttt? I donno what’s going on….terus aku jawab, "Are you rushing me?, coz, this have not been long at all. Some people can wait longer than you are". Keluar deh galaknya. Aku tuh jeleknya gitu deh…, suka cepet panas. Terus si pegawai tokonya bilang, "Bukan gitu, abis anakmu udah kemana-mana". Terus, aku ga mau kalah donk, aku jawab lagi, "Dia ga pernah jauh dari aku kok!". Masih sewot. Terus aku bilang, "Can I just go to her?(sambil menunjuk pegawai yang lain). Aku bilang, "This is a big decision for me. It’s not like ten dollar stuff that I just can pick up right away!!"

Setelah ngeliat aku jadi tambah galak, dia jadi berubah sikap. Jadi baik. Eh, malah bilang gini ke temennya, "Which one do you think look more beautiful..(maksudnya mo nolong aku milih).

Aku pikir dalam hati, gitu kek dari tadi kan enak….bantuin pembeli!!! Aku masih cemberut aja. Si pegawai itu jadi lebih ramah ke anak-anak. Ngajak-ngajak ngobrol dan sebagainya. Sebelumnya, hmmhhh, boro-boro.

Pas bayar, aku masih kesel aja ke orang itu. Katanya "service is our priority". Mana buktinya….Attitude pegawai seperti itu ga sesuai dengan motto perusahaan!! Sebel.

Eh, terus malem-malem aku pikir lagi. Jangan-jangan aku suudzon sama orang itu. Maksud dia kan baik, biar aku ga buru-buru milih. Dia simpenin barang itu dulu, terus kalo’ anak-anak udah ga rewel lagi, baru aku balik milih-milih lagi. Kaya’nya aku yang keburu emosi deh ya……Astaghfirullah.

Duh, susah ya ngendaliin emosi. Teorinya sih, kita harus sabar. "Orang yang paling kuat adalah orang yang bisa mengendalikan marah." Itu ajaran Rasulullah SAW. Jadi, orang yang kuat bukan orang yang bisa mengangkat besi puluhan kilo dan sebagainya. Yang kuat adalah yang bisa menahan marah. Duh.., prakteknya susah banget.

"Sorry ya ibu, aku suudzon. Tapi aku kan ga galak-galak amat yah? Cuma sedikit cemberut dan mengancam. Lagian aku ga jadi ngelapor sama store manager seperti niatku sebelumnya. Maaf ya ibu…."

Seandainya aku…

Thursday, March 6th, 2008

Seandainya aku Khadijah…, bisakah aku menenangkan Rasulullah yang mengigil ketakutan saat menerima wahyu pertama?
Akankah aku meyakinkna dirinya bahwa Allah tidak akan menyengsarakan dirinya yang selalu berbuat baik pada orang lain dan berbudi luhur?
Akankah aku menenangkannya  bahwa yang datang adalah malaikat dan bukan syeitan?
Akankah aku berkorban dengan segenap jiwa ragaku dan hartaku untuk menegakkan kalimat Tauhid?
Akankah aku menjadi istri yang selalu membela suami yang mendapat cobaan bertubi-tubi, cemooh dari orang-orang, bahkan hinaan yang serendah-rendahnya?
Akankah aku tegar dengan semua cobaan yang menimpa keluargaku?
Aku bukan Khadijah……..

Seandainya aku Aisyah…., sabarkah aku menerima fitnah orang terhadap diriku?
Sabarkah aku menghadapi orang-orang yang menuduhku berbuat sesuatu yang aku tidak pernah melakukannya?
Akankah aku serahkan semua masalahku kepada yang Maha Adil, Maha Mengetahui dan Maha Melihat?
Aku bukan Aisyah…………..

Seandainya aku Fatimah……, bisakah aku menyaksikan orangtuaku disiksa?
Bisakah aku berteriak marah pada penguasa Qurais yang meletakkan kotoran di punggung ayahku?
Bisakah aku merelakan ibundaku "pergi" dengan sabar saat aku benar-benar membutuhkan dirinya disisiku?
Bisakah aku serahkan semua makanan yang aku punya pada orang miskin yang kelaparan?
Aku bukan Fatimah………..

Seandainya aku Ummu Sulaim, akankah aku sabar ketika anakku dipanggil Yang Maha Pemilik?
Akankah aku tersenyum tulus pada suamiku menyediakan makanannya dan melayaninya sebaik-baiknya seorang istri?
Akankah aku tegar mengatakan padanya," Tersenyumlah wahai kekasih, anakmu sudah kembali kepada yang Maha penyayang."
Aku bukan Ummu Sulaim………….

Seandainya aku Rufaidah.., beranikah aku membantu para pejuang di medan perang?
Sanggupkah aku menjahit luka-luka para mujahid dan meluruskan tulang-tulang mereka yang patah?
Sanggupkah aku menyaksikan ribuan nyawa yang terkorban di jalan Allah?
Sanggupkah aku melihat darah yang mengalir seperti sungai?
Aku bukan Rufaidah…….

Aku bukan mereka. Tapi, berikan aku sedikit keberanian, kesabaran, kesucian hati dan kekuatan mereka ya Allah…...