Archive for April, 2008

The Mind of a Stay Home Mom

Friday, April 18th, 2008

    Akhir-akhir ini, pe-er matematikanya Nabila banyak soal ceritanya. Kalo’ aku  ga pasti sama kerjaannya Nabila,  biasanya aku suka diskusi dengan suamiku. Udah sering nih, aku dan Mas Eko beda pendapat. Kita biasanya  punya analisa yang berbeda. Hmmmh, seringnya aku ngalah. Kaya’nya aku ga pe-de sama analisaku sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Maklum, aku bukan "practicing engineer" seperti Mas Eko.  Mas Eko kan selalu berkecimpung dengan  angka di pekerjaannya.

Ternyata, seringkali analisaku yang benar. Mas Eko yang salah. Huh…sebel deh, kenapa yah aku ga ngotot. Kerjaan Nabila jadi salah deh…..

Sebenarnya aku ga boleh hilang kepercayaan diri gini yah?  Walaupun selalu di rumah, toh bukan berarti aku tidak menggunakan otakku untuk berfikir. Alhamdulillah aku  suka membaca buku, artikel dan research di internet. Berorganisasi juga melatih otak untuk berfikir. Ini penting sekali loh, buat ibu rumah tangga. Kalau kita cuma mikirin dapur, anak, dan suami, yang ada wawasan kita jadi sempit dan ga nyambung dengan dunia. Keseimbangan antara akal, jasad, dan ruhani itu perlu dijaga untuk menghasilkan pribadi muslim yang takwa. Semua punya "makanan" yang harus di penuhi. Ilmu pengetahuan merupakan "makanan" dari akal. Makaya, walaupun di rumah, ibu rumah tangga harus selalu memperluas wawasannya dengan banyak membaca. Alhamdulillah, mudah-mudahan Allah terus memberikan karunianya kepada kita untuk selalu berfikir.

Aku bilang sama Mas Eko, "Ihh, ga percaya sih sama analisa istrinya, mentang-mentang dah lama jadi ibu rumah tangga." Lain kali aku ga usah deh nanya-nanya Mas Eko, InsyaAllah bisa diselesaikan sendiri…..:)

Teknik beradaptasi

Friday, April 4th, 2008

Pernah pas lagi belanja ke Wal-mart berlima tanpa Mas Eko, ibu-ibu nyamperin," I only have two kids, but boy.., I’m busy. I don’t know how you do it". Aku senyum-senyum aja sambil bilang, " Well, you know, I’m always busy." Mama dan papa juga gitu, "Ga kebayang deh kamu ngurus anak 4 sendiri, bisa ga ya?" Mertua juga gitu, "Ga kebayang deh Vivi repotnya kaya’ apa?!!".

Temenku yang punya 2 anak kembar bilang gini ke aku, " Well, if you can do it, I can do it, too." Tapi tiap kali ngobrol pasti yang dia tanya, "Are you tired?".

Tinggal di Amerika atau di luar negeri tanpa pembantu, pasti punya tantangan sendiri buat ibu-ibu. Ga anak satu, dua, tiga empat dan seterusnya. Semua pasti ngerasain hal yang sama. Capek? Iyalah.., jangan ditanya. Tapi mau diapain lagi. Ga ada pilihan. Mo pake "maid"? Ga kuatlah ya….Mahal banget. Kalau aku sayang sama duitnya. Bisa $100 satu kali dateng, paling lama kerja cuma 2 jam. Yah.., sayang duitnya donk. Mendingan bersihin rumah sendiri dan uangnya dipake buat yang lain!! Pokoknya ga mungkin deh pake "maid" kaya’ di Indonesia. Tapi, Alhamdulillah, walaupun ngerjain apa-apa sendiri, toh ibu-ibu di Amrik (dan di negara lainnya) bisa survive. Apa sih sebenernya strateginya sehingga bisa melakukan apa-apa sendiri? Usaha, do’a dan modal nekat. Itu sih sebenernya. Semua orang di posisi kita pasti akan melakukannya.It’s a basic survival theory, "if you want to survive, adjust to your environment". Jadi, ga usah heranlah. Mau anak 5,6,7 tinggal di Amerika tanpa pembantu? It’s possible!!

Aku punya temen baik yang tinggal di Ohio. Anaknya 4. Aktif di organisasi muslim Amerika dan di islamic center di tempat tinggalnya. Masih sempat siaran di radio Indonesian Muslim Society in America, berbisnis, nganterin anak-anaknya kesana-kemari dengan segala extra kurikulernnya, dan masih sering ngundang makan-makan di rumahnya. Kalau masak, subhanallah, ga satu dua macem, banyak macemnya. Belum lagi pengajian-pengajian. Aktif banget deh, MasyaAllah. Tapi, semua bisa dilakonin sama temenku ini. Cekatan dan pinter membagi waktu, itu kunci beliau.

Biasanya kalau mau ngundang orang ke rumah, terutama kalau jumlahnya banyak, kita masaknya nyicil. Terus disimpen di freezer. Kalau ga gitu, ga mungkinlah bisa selesai masak. Apalagi kalau anak masih kecil-kecil, mau goreng sambel, eh.., si adek baby minta disusuin. Ya ga ada jalan lain kecuali dicicil. Terus kalau soal beberesan rumah kalau mau ada tamu, biasanya aku mulai jauh-jauh hari untuk yang detail. Sehari sebelumnya kamar mandi tamu aku kunci aja. Lah kalau engga’, mana bisa dipertahankan kerapihan rumah.

Terus temenku ada yang punya anak banyak banget deh. Aku denger kalau dia lagi ke luar kota (satu-dua hari), mereka hanya bawa baju daleman. Soalnya kalau bawa baju ganti, walah, bisa bawa berapa koper. Jadilah biar adil dan efisien ga ada yang ganti baju selama bepergian! Gitu deh, setiap keluarga pasti punya cara sendiri-sendiri untuk survived.

Kadang aku ditanyain, gimana bisa jalan 15 jam sama anak-anak tanpa menginap? Apa ga repot tuh, ke kamar mandi, makan, dan sebagainya? Kalau kita caranya, anak-anak diangkut ke mobil pagi-pagi banget, setelah subuh, masih dengan pakaian tidurnya. Kemudian, pasti di mobil mereka tidur lagi. Sarapan? yah di mobil aja. Mandi? ntar aja kalo’ udah nyampe. Gosok gigi? Bisa di rest area. Makan? bawa nasi dan lauk sendiri. Dikit-dikit ke rest area? Ga juga tuh. Kan sepanjang jalan ada tanda-tanda seperti: "Next Rest Area 50 Miles". Nah, itu yang aku manfaatkan. Minum sebanyak-banyaknya sebelum sampe ke rest area. Yah 3-4 jam sekali kita berenti di rest area. Tapi ga lama-lama, kalau lama kapan sampenya. Alhamdulillah anak-anak dari umur sebulan dah diajak jalan jauh-jauh, minimal 9 jam. Jadi, kaya’nya biasa jalan jauh dan sampe mereka gede kebawa. Kita ga pake DVD di mobil. Ga tau tuh anak-anak gimana mengatasi rasa bosennya. Paling kita bawa buku atau main games kalo’ lagi di mobil.

Kesimpulannya, hidup di Amerika, harus pinter-pinter cari akal supaya bisa survive. Capek sih capek. Tapi dijalani dan dinikmati aja. Pas balik ke Indonesia baru deh memanjakan diri, "Mah, titip anak-anak yah, mo jalan bedua nih". he..he..he…. Nikmatnya tinggal di Indonesia, dekat sama orangtua dan sodar-sodara. Banyak bantuan dan kemudahan yang bisa didapatkan. Tapi tetap aja, dimana pun kita tinggal, tantangan selalu ada. Yang penting adalah upaya kita untuk mengatasi tantangan tersebut.