Clearence and Sale

May 3rd, 2008 by viejournal

    Hidup di Amerika, semua serba mahal. Apalagi sekarang, jamannya resesi. Semua harga naik, dari bensin, susu, beras, buah, daging, listrik, gas,apa aja….
Kalau ke grocery store, kerasa banget. Budget mingguan harus ditingkatkan. Memang sekarang lagi "Difficult Time", kata Presiden Bush. Bush masih in denial kalau negaranya mengalami resesi ekonomi. Padahal, indikasi resesi sudah terlihat dimana-mana! Lebih dari 15 negara bagian menyatakan budget defisit. Banyak yag di lay of dari kerjaan, banyak yang ga bisa bayar cicilan rumah, sehingga rumah-rumah banyak yang disita. Rumah  yg disita bukan rumah-rumah biasa loh. Banyak juga rumah-rumah untuk kelas menengah keatas yang disita. Ini kan berarti yang mengalami kesulitan ekonomi bukan cuma kalangan tertentu. Semua mengalami kesulitan dengan level yang berbeda.

Tapi, Alhamdulillah, hidup di Amerika susah-susah gampang. Banyak sale yang ditawarkan toko-toko. Juga kalau rajin, di koran-koran, banyak kupon yang bisa digunakan untuk menghemat belanja. Ada penawaran beli satu dapet satu, atau potongan-potongan harga lainnya. Pernah denger seorang pengusaha koran yang rajin menggumpulkan kupon belanja dan setahunnya dia bisa save $2000 untuk belanja grocery. WOw!!!! Aku dan temen-temen disini juga rajin nyari sale. Kita kalau beli barang(non-grocery terutama) untuk sendiri maupun untuk keluarga, hampir ga pernah beli kalau harganya masih 100%. Tunggu sale dulu donk. Kalau engga’, mana kuatlah beli-beli. Biasanya kalau akhir season, toko-toko banyak yang sale besar-besaran. Bisa sampe 75% off  bahkan bisa lebih dari itu. Kadang kalau lagi rezeki,  bisa loh dapet baju anak-anak seharga 50 cent, atau baju dewasa $2.00. Murah banget kan? Kualitasnya bagus, harga murah, siapa yang nolak? Minggu lalu aku seneng banget deh…, lagi rezeki kali ya. Dapet dress seharga $2.97 Harga aslinya $90. Berarti aku cuma bayar 3%. Aduh, senangnya, mana dapet dua dress lagi. Alhamdulillah. Kalau di Indonesia, kaya’nya ga mungkin yah dapet barang kualitas OK dengan harga murah? Makanya, kadang aku pikir, murahan mana sih hidup di Amerika atau di Indonesia? Soalnya kalau lagi liburan di Jakarta pun,  belanja di supermarket, harganya ga jauh beda sama di Amerika. Semua udah mahal. Ampun deh…,Malah mending di Amerika, karena banyak discount dan kupon.

Mudah-mudahan yah.., Allah meringankan beban kita di masa-masa sulit ini. Mudah-mudahan semua pintu rezeki dibuka. Amien.  Mudah-mudahan dijauhkan dari sifat boros. He..he.he..Mudah-mudahan kalau beli barang yang kita perlu, lagi sale besar-besaran…..:)

The Mind of a Stay Home Mom

April 18th, 2008 by viejournal

    Akhir-akhir ini, pe-er matematikanya Nabila banyak soal ceritanya. Kalo’ aku  ga pasti sama kerjaannya Nabila,  biasanya aku suka diskusi dengan suamiku. Udah sering nih, aku dan Mas Eko beda pendapat. Kita biasanya  punya analisa yang berbeda. Hmmmh, seringnya aku ngalah. Kaya’nya aku ga pe-de sama analisaku sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Maklum, aku bukan "practicing engineer" seperti Mas Eko.  Mas Eko kan selalu berkecimpung dengan  angka di pekerjaannya.

Ternyata, seringkali analisaku yang benar. Mas Eko yang salah. Huh…sebel deh, kenapa yah aku ga ngotot. Kerjaan Nabila jadi salah deh…..

Sebenarnya aku ga boleh hilang kepercayaan diri gini yah?  Walaupun selalu di rumah, toh bukan berarti aku tidak menggunakan otakku untuk berfikir. Alhamdulillah aku  suka membaca buku, artikel dan research di internet. Berorganisasi juga melatih otak untuk berfikir. Ini penting sekali loh, buat ibu rumah tangga. Kalau kita cuma mikirin dapur, anak, dan suami, yang ada wawasan kita jadi sempit dan ga nyambung dengan dunia. Keseimbangan antara akal, jasad, dan ruhani itu perlu dijaga untuk menghasilkan pribadi muslim yang takwa. Semua punya "makanan" yang harus di penuhi. Ilmu pengetahuan merupakan "makanan" dari akal. Makaya, walaupun di rumah, ibu rumah tangga harus selalu memperluas wawasannya dengan banyak membaca. Alhamdulillah, mudah-mudahan Allah terus memberikan karunianya kepada kita untuk selalu berfikir.

Aku bilang sama Mas Eko, "Ihh, ga percaya sih sama analisa istrinya, mentang-mentang dah lama jadi ibu rumah tangga." Lain kali aku ga usah deh nanya-nanya Mas Eko, InsyaAllah bisa diselesaikan sendiri…..:)

Teknik beradaptasi

April 4th, 2008 by viejournal

Pernah pas lagi belanja ke Wal-mart berlima tanpa Mas Eko, ibu-ibu nyamperin," I only have two kids, but boy.., I’m busy. I don’t know how you do it". Aku senyum-senyum aja sambil bilang, " Well, you know, I’m always busy." Mama dan papa juga gitu, "Ga kebayang deh kamu ngurus anak 4 sendiri, bisa ga ya?" Mertua juga gitu, "Ga kebayang deh Vivi repotnya kaya’ apa?!!".

Temenku yang punya 2 anak kembar bilang gini ke aku, " Well, if you can do it, I can do it, too." Tapi tiap kali ngobrol pasti yang dia tanya, "Are you tired?".

Tinggal di Amerika atau di luar negeri tanpa pembantu, pasti punya tantangan sendiri buat ibu-ibu. Ga anak satu, dua, tiga empat dan seterusnya. Semua pasti ngerasain hal yang sama. Capek? Iyalah.., jangan ditanya. Tapi mau diapain lagi. Ga ada pilihan. Mo pake "maid"? Ga kuatlah ya….Mahal banget. Kalau aku sayang sama duitnya. Bisa $100 satu kali dateng, paling lama kerja cuma 2 jam. Yah.., sayang duitnya donk. Mendingan bersihin rumah sendiri dan uangnya dipake buat yang lain!! Pokoknya ga mungkin deh pake "maid" kaya’ di Indonesia. Tapi, Alhamdulillah, walaupun ngerjain apa-apa sendiri, toh ibu-ibu di Amrik (dan di negara lainnya) bisa survive. Apa sih sebenernya strateginya sehingga bisa melakukan apa-apa sendiri? Usaha, do’a dan modal nekat. Itu sih sebenernya. Semua orang di posisi kita pasti akan melakukannya.It’s a basic survival theory, "if you want to survive, adjust to your environment". Jadi, ga usah heranlah. Mau anak 5,6,7 tinggal di Amerika tanpa pembantu? It’s possible!!

Aku punya temen baik yang tinggal di Ohio. Anaknya 4. Aktif di organisasi muslim Amerika dan di islamic center di tempat tinggalnya. Masih sempat siaran di radio Indonesian Muslim Society in America, berbisnis, nganterin anak-anaknya kesana-kemari dengan segala extra kurikulernnya, dan masih sering ngundang makan-makan di rumahnya. Kalau masak, subhanallah, ga satu dua macem, banyak macemnya. Belum lagi pengajian-pengajian. Aktif banget deh, MasyaAllah. Tapi, semua bisa dilakonin sama temenku ini. Cekatan dan pinter membagi waktu, itu kunci beliau.

Biasanya kalau mau ngundang orang ke rumah, terutama kalau jumlahnya banyak, kita masaknya nyicil. Terus disimpen di freezer. Kalau ga gitu, ga mungkinlah bisa selesai masak. Apalagi kalau anak masih kecil-kecil, mau goreng sambel, eh.., si adek baby minta disusuin. Ya ga ada jalan lain kecuali dicicil. Terus kalau soal beberesan rumah kalau mau ada tamu, biasanya aku mulai jauh-jauh hari untuk yang detail. Sehari sebelumnya kamar mandi tamu aku kunci aja. Lah kalau engga’, mana bisa dipertahankan kerapihan rumah.

Terus temenku ada yang punya anak banyak banget deh. Aku denger kalau dia lagi ke luar kota (satu-dua hari), mereka hanya bawa baju daleman. Soalnya kalau bawa baju ganti, walah, bisa bawa berapa koper. Jadilah biar adil dan efisien ga ada yang ganti baju selama bepergian! Gitu deh, setiap keluarga pasti punya cara sendiri-sendiri untuk survived.

Kadang aku ditanyain, gimana bisa jalan 15 jam sama anak-anak tanpa menginap? Apa ga repot tuh, ke kamar mandi, makan, dan sebagainya? Kalau kita caranya, anak-anak diangkut ke mobil pagi-pagi banget, setelah subuh, masih dengan pakaian tidurnya. Kemudian, pasti di mobil mereka tidur lagi. Sarapan? yah di mobil aja. Mandi? ntar aja kalo’ udah nyampe. Gosok gigi? Bisa di rest area. Makan? bawa nasi dan lauk sendiri. Dikit-dikit ke rest area? Ga juga tuh. Kan sepanjang jalan ada tanda-tanda seperti: "Next Rest Area 50 Miles". Nah, itu yang aku manfaatkan. Minum sebanyak-banyaknya sebelum sampe ke rest area. Yah 3-4 jam sekali kita berenti di rest area. Tapi ga lama-lama, kalau lama kapan sampenya. Alhamdulillah anak-anak dari umur sebulan dah diajak jalan jauh-jauh, minimal 9 jam. Jadi, kaya’nya biasa jalan jauh dan sampe mereka gede kebawa. Kita ga pake DVD di mobil. Ga tau tuh anak-anak gimana mengatasi rasa bosennya. Paling kita bawa buku atau main games kalo’ lagi di mobil.

Kesimpulannya, hidup di Amerika, harus pinter-pinter cari akal supaya bisa survive. Capek sih capek. Tapi dijalani dan dinikmati aja. Pas balik ke Indonesia baru deh memanjakan diri, "Mah, titip anak-anak yah, mo jalan bedua nih". he..he..he…. Nikmatnya tinggal di Indonesia, dekat sama orangtua dan sodar-sodara. Banyak bantuan dan kemudahan yang bisa didapatkan. Tapi tetap aja, dimana pun kita tinggal, tantangan selalu ada. Yang penting adalah upaya kita untuk mengatasi tantangan tersebut.

Panggilan

March 30th, 2008 by viejournal

Pas jaman kuliah dulu (yg BTW udah lama berlalu), aku sering di protes sama temen-temen yang udah married. "Vi, aku jangan di panggil tante donk, mba’ aja deh…". Pokoknya,  dulu prinsipnya kalo’ udah married, apalagi kalo’ dah punya anak, otomatis panggilannya jadi "Tante/Om". Padahal, beda umurnya ga terlalu jauh. Paling cuma beda 5 tahun….

Atribut atau panggilan orang terhadap kita selalu mengalami perubahan sejalan dengan berjalannya waktu. Waktu gede di Riau, kita biasa memanggil "Kak" ke kakak kelas. Jadi kalo’ aku dipanggil "Kak" sama yang lebih muda, dah biasa deh. Eh, terus pas kuliah,  kan banyak "ponakan-ponakan" kecil tuh, mulailah harus membiasakan diri dengan panggilan "Tante Vivi". Mulanya agak kagok dipanggil "Tante " sama anak-anak, tapi lama-lama jadi biasa.
Sejak nikah, panggilan berubah lagi. Apalagi di Indonesia, baru nikah beberapa hari, harus biasa  dipanggil  "Nyonya Vivi atau Ibu Eko"..Ihhhh, ga biasa banget deh!!!
Pernah waktu lagi makan sama temn-temenku (yang masih single) di hotel, terus kita dipanggil "Ibu". Kenapa engga’ "Mba’" sih?", kataku sewot. Kesannya kalo’ "Ibu" dah tua banget. Terus kata temenku, "Itu panggilan hormat, Vi, kalo’ di Indonesia." Dasar,.. ga biasa tinggal di Indonesia nih…

Adek iparku juga bilang gitu, "Enakkan dipanggil Ibu, kalo dipanggil "Mba’" kaya’ baby sitter atau pembantu". Hi..hi..hi…, bener juga sih. Aku pikir kalo’ dipanggil Ibu itu untuk yang udah berumur…:)

Nah, sekarang nih umur makin nambah suka geli aja. Kadang-kadang suamiku dipanggil "Pak" sama anak-anak muda yang baru dateng dari Indonesia. "Ih.., bapak-bapak", godaku. Eh, ternyata si anak-anak itu manggil "Tante" ke aku. Ampun deh…, kok ga cocok banget yah…yang saru dipanggil Bapak, yang satu dipanggil Tante. Kenapa ga Om sama Tante aja sih…? Tau ah….

Pernah ada temenku dipanggil tante sama anak usia college gitu, terus dia wanti-wanti sama si anak itu, "Don’t call me "aunt". Do I look old to you?? Call me sister". Ternyata bukan aku aja yang sewot kalo’ dipanggil "Tante".

Kalau menurutku, fenomena seperti ini disebabkan oleh tidak sadarnya orang terhadap penambahan umurnya. Kita cenderung berfikir kalo’ kita tuh masih muda. Padahal, ya ampuuun.., umur nambah terus.  Siap-siap aja beberapa tahun kedepan, kita bakal dipanggil "Eyang, atau Nenek" oleh semua orang.  Waktu memang cepat berlalu. Perasaan, aku baru aja lulus SMA, kemudian baru nikah, punya anak…, dan sebagainya. Ngeliat kebelakang lagi, rasanya baru kemaren. Ah…, aku cuma iseng malam ini. Anak-anak dah pada bobok. Jadi gini deh, iseng mengangkat topik ini..he..he..he….

Sabar….sabar…..

March 28th, 2008 by viejournal

Duh, kaya’nya pingin ngelupain hari ini deh. Ga enak banget perasaanku. Tadi di Macy’s sempet ga’ enakkan sama pegawainya. Pasalnya waktu lagi asyik-asyiknya milih barang, eh…si pegawainya bilang, " I can hold this for you". Whatttt? I donno what’s going on….terus aku jawab, "Are you rushing me?, coz, this have not been long at all. Some people can wait longer than you are". Keluar deh galaknya. Aku tuh jeleknya gitu deh…, suka cepet panas. Terus si pegawai tokonya bilang, "Bukan gitu, abis anakmu udah kemana-mana". Terus, aku ga mau kalah donk, aku jawab lagi, "Dia ga pernah jauh dari aku kok!". Masih sewot. Terus aku bilang, "Can I just go to her?(sambil menunjuk pegawai yang lain). Aku bilang, "This is a big decision for me. It’s not like ten dollar stuff that I just can pick up right away!!"

Setelah ngeliat aku jadi tambah galak, dia jadi berubah sikap. Jadi baik. Eh, malah bilang gini ke temennya, "Which one do you think look more beautiful..(maksudnya mo nolong aku milih).

Aku pikir dalam hati, gitu kek dari tadi kan enak….bantuin pembeli!!! Aku masih cemberut aja. Si pegawai itu jadi lebih ramah ke anak-anak. Ngajak-ngajak ngobrol dan sebagainya. Sebelumnya, hmmhhh, boro-boro.

Pas bayar, aku masih kesel aja ke orang itu. Katanya "service is our priority". Mana buktinya….Attitude pegawai seperti itu ga sesuai dengan motto perusahaan!! Sebel.

Eh, terus malem-malem aku pikir lagi. Jangan-jangan aku suudzon sama orang itu. Maksud dia kan baik, biar aku ga buru-buru milih. Dia simpenin barang itu dulu, terus kalo’ anak-anak udah ga rewel lagi, baru aku balik milih-milih lagi. Kaya’nya aku yang keburu emosi deh ya……Astaghfirullah.

Duh, susah ya ngendaliin emosi. Teorinya sih, kita harus sabar. "Orang yang paling kuat adalah orang yang bisa mengendalikan marah." Itu ajaran Rasulullah SAW. Jadi, orang yang kuat bukan orang yang bisa mengangkat besi puluhan kilo dan sebagainya. Yang kuat adalah yang bisa menahan marah. Duh.., prakteknya susah banget.

"Sorry ya ibu, aku suudzon. Tapi aku kan ga galak-galak amat yah? Cuma sedikit cemberut dan mengancam. Lagian aku ga jadi ngelapor sama store manager seperti niatku sebelumnya. Maaf ya ibu…."

Seandainya aku…

March 6th, 2008 by viejournal

Seandainya aku Khadijah…, bisakah aku menenangkan Rasulullah yang mengigil ketakutan saat menerima wahyu pertama?
Akankah aku meyakinkna dirinya bahwa Allah tidak akan menyengsarakan dirinya yang selalu berbuat baik pada orang lain dan berbudi luhur?
Akankah aku menenangkannya  bahwa yang datang adalah malaikat dan bukan syeitan?
Akankah aku berkorban dengan segenap jiwa ragaku dan hartaku untuk menegakkan kalimat Tauhid?
Akankah aku menjadi istri yang selalu membela suami yang mendapat cobaan bertubi-tubi, cemooh dari orang-orang, bahkan hinaan yang serendah-rendahnya?
Akankah aku tegar dengan semua cobaan yang menimpa keluargaku?
Aku bukan Khadijah……..

Seandainya aku Aisyah…., sabarkah aku menerima fitnah orang terhadap diriku?
Sabarkah aku menghadapi orang-orang yang menuduhku berbuat sesuatu yang aku tidak pernah melakukannya?
Akankah aku serahkan semua masalahku kepada yang Maha Adil, Maha Mengetahui dan Maha Melihat?
Aku bukan Aisyah…………..

Seandainya aku Fatimah……, bisakah aku menyaksikan orangtuaku disiksa?
Bisakah aku berteriak marah pada penguasa Qurais yang meletakkan kotoran di punggung ayahku?
Bisakah aku merelakan ibundaku "pergi" dengan sabar saat aku benar-benar membutuhkan dirinya disisiku?
Bisakah aku serahkan semua makanan yang aku punya pada orang miskin yang kelaparan?
Aku bukan Fatimah………..

Seandainya aku Ummu Sulaim, akankah aku sabar ketika anakku dipanggil Yang Maha Pemilik?
Akankah aku tersenyum tulus pada suamiku menyediakan makanannya dan melayaninya sebaik-baiknya seorang istri?
Akankah aku tegar mengatakan padanya," Tersenyumlah wahai kekasih, anakmu sudah kembali kepada yang Maha penyayang."
Aku bukan Ummu Sulaim………….

Seandainya aku Rufaidah.., beranikah aku membantu para pejuang di medan perang?
Sanggupkah aku menjahit luka-luka para mujahid dan meluruskan tulang-tulang mereka yang patah?
Sanggupkah aku menyaksikan ribuan nyawa yang terkorban di jalan Allah?
Sanggupkah aku melihat darah yang mengalir seperti sungai?
Aku bukan Rufaidah…….

Aku bukan mereka. Tapi, berikan aku sedikit keberanian, kesabaran, kesucian hati dan kekuatan mereka ya Allah…...

Without You

February 25th, 2008 by viejournal

My dearly beloved…it’s so lonely without you..
Everything is just so different…..
The day  become  more gloomy
The night become darker
The clock become slower
The whole world become quiet

My dearly beloved…., I remember you every minute of the day
From the moment I wake up until I rest my head on th pillow
Everything reminds me of you

Without you, I don’t care about my hair or the way I look

Without you, I don’t care if I wear the same shirt from morning till the next day

Without you, I don’t have to think what food I cook today

Without you, I don’t have someone who can listen to me about the book I just read

and nobody will reply to me about things I don’t understand

Without you, no one smile to my jokes

Without you ,I have to "work" with the kids around the clock

Without you I have to nurse the baby while having halaqah…

My dearly beloved everything is more challenging without you. Period.

But, don’t worry my dear……

InsyaAllah, I will be OK. With your prayer and Allah’s help I’m going to be just fine.

When you comeback my dear.., I’ll cook better dinner for you

and I’ll be a better wife and companion to you. I will be more sabr with our kids and I hope you will heard less complains from me about everything..:)

I have been reading since you were gone. I just realize, Our life is such a short time. Alhamdulillah, Allah still give time for us to live in this world. But we have to remember, it is a short time.  We have to use it for better cause. Being a slave of Allah, it’s our duty to live our life better each day. We don’t know when it’s over. Are we prepare my dear? I don’t think I’m ready. I have to use my remaining time better and wisely. Let’s make it happen my dear. Let’s fix our life to become a better person, better parents, better family member, better neighbor, and most importantly better slave of Allah.

My dearly beloved, On the first night you come to me , InsyaAllah, what I’ll do is to sprinkle a bit of water in your face, and wake you from your dream, and together we’ll perform the Qiyamul Lail. Let’s fill our nights with beautiful things for our garden in akhirah.

I love you with all my heart.

Happy B’day Malik

January 26th, 2008 by viejournal

Malik sweetie, it’s your first birthday…..welcome to toddler world!!!

I still remembered the day you were born….just like others moms do…! I don’t care how many kids they have…one, four, twelve, each one of the children has a special delivery moment. So are you, my dear.

A lot of strange things happened the day you were born. Kakek was trying to visit me while I’m in labor and got lost……(well it’s his first time driving in Raleigh). Baba had to pick him up in Target while I’m having some heavy contraction at the hospital:(

Luckily Baba could come back on time just before you were born:). On top of that, while I was in pain,  the nurse had to change my bed not once, but twice. Somehow my delivery room is not equipped well!! Last but not least, you made your way out before the doctor could reach my room. There were lots of women deliver their baby on that night. The doctor was so busy.  The nurse had to scream on the intercom,"Get someone RIGHT NOW..BABY HEAD IS OUTTTTTTT!!!!                                       

It was quite an experience. We were so thankful to Allah for the blessing. You were a healthy, happy baby.  Right after you were born,  your brothers and sister came to visit us. They couldn’t wait to see you. They’ve been waiting since morning. They loved you instantly. You were so cute, MasyaAllah.

When we brought you home, everything is different. I’m very fortunate that Kakek and Nenek could stay with us for three months. I couldn’t imagine if they were not there for all of us. Even with their help, I still felt overwhelming sometimes..:) I remember one time I cried and  told Baba, "How am I going to survive four kids?" He said," We will, InsyaAllah."

So, here we are. The first year is over. We survived. We survived 13 hour trip to Midwest. We survived groceries store trip with four active kids, we even survived vacation on the beach! It’s not always easy. But somehow, only good things stuck in my mind. I couldn’t recall me having a heart attack  or meltdown….he..he..he…

I still remember how I just wanna woke up in the middle of the night to see you sleeping.I would kiss your chubby  cheek, and  your sweet smelling tummy. I could just watch you smile in your dream and just felt how blessed I am…

I still remember how you laugh and giggle, how you dance to my song, and how you throw your tantrum when I took something from you.

At one year old, you hit your milestone right on time. Sometimes earlier than expected, Subhanallah. You walked, you climbed up the stair and even climbed down the stair on your own. You survived  couple of  hard falls too:)

It’s amazing how time flies. When I only had your sister, it felt so long for her reach her first birthday. I think all my energy just drained to her. But with you.., every month passed just like that. I was just way too busy I guess….

Anyway, my dear, I am looking forward for many many wonderful years, InsyaAllah. May allah always guide and protect you and your brothers and sister. Happy birthday sweetheart…..

Img_0030

 

 

 

My Awkward Moment

January 19th, 2008 by viejournal

    I bet you had an awkward moment like me once in a while. Have you ever make comment to someone that you regret?! You would rephrase the sentence if you could.. Or  you wish you don’t say any words at all?
Well, here are some of my moments…..

This happened just before my wedding (almost ten years ago by the way:)
A called from someone. "Maaf ya Vivi, Mas ga bisa dateng ke kawinannya…" I tried to guess who’s in the other line…….I said to myself, " I think he’s my neighbor". Who else? I don’t know anybody else in this town. I used to live here in Rumbai before leaving for Texas. I came back just for the wedding since  my parents still lived there. The other person didn’t even introduce himself to me..He must assume that I recognize his voice or something!!!
I thought I was being rude if I ask who he was. So I just keep the conversation going….
"Ga papa Mas, kalo ga bisa dateng. Then, bla…bla…bla…I don’t remember what else we talked about. At the end of the conversation I said, "Salam ya buat mba’nya…".  He said, "Aduh belum punya mba’ tuh….". "Ooooops, I said to myself. Who is this person anyway……? Then I found out that he’s  one of my father colleague that I just met few day earlier…..Talking about premature conclusion that this "mas"  has "mba’…..he..he..he…..

Another Mas and Mba’ situation….,
"Are you from Malaysia?", a man asked me in an annual IMSA convention , "No, I said,  I’m from Indonesia". "Where do you live?", he said. " I live in North Carolina", I said. "I’m Eko’s wife", I said, assuming he would know my hubby. "Oh…, he said, So you’re Eko’s wife..", he said, just like what I’ve assumed. He knows my hubby. Then, I asked him, " Mba’nya sapa ya Mas". He replied to me with a udescribable tone and expression, " Ga.., ga ada mba’….udah divorce". "Man…, I thought, another  oooops moment. Why do I ask that question anyway???? I’m sorry, I don’t mean to be noisy….:(

Here’s another one…
"Are you expecting? " , I ask one of the sister in the masjid. "No, she said coldly, " "Do I looked pregnant to you?.

Oh..my gosh…what am I thinking…!!!! "mmmmmh, sorry sister". That’s all I can say. A-W-K-W-A-R-D!!!!

I was in the mall shopping for Nabila’s Eid present…, I saw an Arab sister. I said salaam to her then we started to talk. After a while I saw her holding her belly. I wouldn’t say she’s big or anything, but seems like she has a little bump on her tummy.   There I go again, asking the "sensitive" question with a big smile on my face,  "Are you expecting, sister?".. "No, she said, I just need to exercise."

"OOhh, sorry, I said, I saw you holding your tummy that’s why I thought you’re expecting", I said. " About exercise.., hmmh  I think all of us need to exercise not only to loose weight but to be healthy", I added, trying to cover my crime.

My most insensitive remark was when I visited my friend’s house back in 1998. She was the parent of one of my students, Omara. She was kind enough to show me her family pictures.  I never seen anybody in her family except her and her two kids. Then, while flipping the album, I saw a man holding a baby. "This must be the proud grandpa?"., I asked. Then she looked at the picture and said, "No, it’s my husband holding Omara". I ‘m a so sorry oh my dear sister…..:) or should I say, sorry brother??

But, numero uno in my awkward award  is this one time when I was a teacher in an Islamic school in Illinois. I taught  pre-school class back then. One of my student was showing me her drawing. I was so excited to see such "beautiful" art. I said to her, "MasyaAllah Fatima, you’re such a good artist. I like your drawing. Your lion is so scary it seems so real". Then, I saw Fatima cried. "What’s a matter Fatima?", I said. Then, here goes her answer, "It’s not a  lion teacher, It’s my mom. Don’t you see, this is her hair…" 

Pesan Sang Udztadzah

January 5th, 2008 by viejournal

     Yoyoh Yusroh namanya. Perempuan sederhana yang punya segudang aktifitas. Anggota dewan yang punya 13 anak. Semuanya hafal Qur’an beberapa juz. Bahkan ada beberapa yang hafidz. Subhanallah. Ingin aku mengenalnya lebih dekat. Mendengarkan taujihnya dan pemikirannya. Ingin aku belajar banyak darinya. Bagaimana ya cara beliau membesarkan semua putra-putrinya yang sholeh/sholehah?

Aku mengeluh pada beliau,"Ibu, saya ga bisa banyak dengerin ibu nih.., sibuk di bazaar dan madrasah plus ngurusin anak-anak yang masih kecil-kecil", keluhku. "Ga papa,pahalanya sama," kata beliau menghiburku. "Ibu, boleh nanya ga?", tanyaku ketika berkesempatan duduk semeja dengannya. "Boleh", beliau menggeser kursinya tepat didepanku. "Anak saya pingin jadi pemain film atau penyanyi, gimana yah menyikapinya? Kalau saya bilang "no" terus, takutnya dia kecil hati…..". Beliau menjawab," Islam itu membolehkan kita untuk menjadi apa saja, termasuk penyanyi atau bintang film."

Hhhmmmh jawaban yang mengagetkanku,"Jadi boleh jadi penyanyi, ibu?", tanyaku  meyakinkan…. "Iya, tentunya penyanyi lagu-lagu islami, atau kalo mau jadi pemain film, pemain film islami, kata beliau lagi. Jangan ditutupi keinginan-keinginan anak. "Anak saya kepingin jadi foto model", lanjut beliau lagi. "Dia selalu berpakaian modis, tapi selalu berjilbab", sambung beliau. "Jelaskan pada anak, dia boleh jadi apa saja yang diingininya asal tidak keluar dari batas syariat."

"Kalau memakai hijab, gimana Bu?", tanyaku lagi, mumpung nih pikirku. Sang udztadah menyarankan melatih anak memakai hijab dari kecil, agar ia tidak canggung memakai hijab setelah mencapai usia pubertas.

"Bu, bagaimana membuat anak menjadi amanah terhadap tanggung jawab?", ini pertanyaan ketigaku. Bu Yoyoh menyarankan untuk memberikan anak tanggung jawab yang kecil dulu.  Contohnya, membereskan meja, mengangkat piring yang kotor, membereskan mainannya, dsb. Orangtua harus memberikan dorongan , jangan kritikan. Ajaklah anak untuk ngobrol, jangan menggurui. Ketika mengajak anak bicara, duduk disamping anak, jangan berhadapan. Jelaskan ekspetasi kita pada anak. Misalnya kita bilang, "mama pingin kamu jadi anak sholeh." Jangan lupa jelaskan apa ciri-ciri anak sholeh. Jangan cuma nyebut-nyebut anak sholeh tapi tidak diterangkan apa artinya anak sholeh itu. Jadi si anak punya misi yang jelas. Bukan menebak-nebak, apa sih maksudnya anak  sholeh(ini khusus untuk anak-anakku yg masih berumur 7 tahun kebawah). Udztadzah juga berpesan untuk selalu mengajari anak kalimat tauhid "la ila ha ilallah" setiap hari. Anak-anak harus terbiasa mengucapkan kalimat ini setiap waktu.

Jazakallah khair udztadz atas nasehathatnya. Do’akan agar saya bisa menjadi orangtua yang baik, agar bisa membimbing anak-anak sholeh yang berkualitas menjadi pejuang deen yang sejati, InsyaAllah.